thumbnail

On June 28, 2017 with 1 comment

Jagat Facebook kembali dihebohkan dengan pernyataan dedengkot syiah Indonesia bahwa tuhan mereka tidak sama dengan tuhannya orang Muslim, sebagaimana screenshoot status Emilia Renita AZ -isteri Jalaludin Rahmat- diposting secara viral di Facebook pada Selasa (7/10/2014).

Dalam statusnya, Sabtu (4/10), Emilia mengutip tokoh syiah Al-Gharawi yang mengatakan bahwa, “Tuhan kita (syiah) adalah tuhan yang menurunkan wahyu kepada Ali, seangkan tuhan yangmenurunkan wahyu kepada Muhammad maka bukan tuhan kita. Shollu ‘Ala Nabii……”


Sontak Muslimin pengguna media sosial, terutama Facebook, menganggap ini bukan main-main. Pasalnya, dengan status tersebut, maka kita dapat mengetahui bahwa JELAS #syiah_bukan_Islam.

Dengan demikian, banyak Muslimin pengguna Facebook merasa “heran jika di Indonesia masih ada saja Ummat Islam yang mengaku Sunni tetapi masih getol membela syiah yang sesat dan menyesatkan itu”.

Bahkan di antara pemberi komentar ada yang mengaakan bahwa jika mereka bukan Islam, maka haram bagi syiah untuk mendirikan Sekolah Islam Terpadu. Bukankah mereka tidak mengakui Allah subhanahu wata’ala yang telah mengutus Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alayhi wasallam sebagai khataman Nabi?

Selain itu, ada pula yang mempertanyakan, “Jika syiah tidak mengakui Nabi Muhammad, lantas nabi yang mana yang mereka beri shalawat?” Jangan-jangan praktik shalawat yang marak dilakukan di masyarakat saat ini juga tercemar shalawat versi syiah. Na’udzubillahi min dzalik. (Arrahmah.com/Syiahindonesia.com)
thumbnail

On June 17, 2017 with No comments


Bulan Ramadan sudah mencapai 10 hari terakhir. Nabi Muhammad SAW menekankan kepada umatnya untuk menghidupi malam harinya dengan ibadah.
Sebab pada 10 hari terakhir di Bulan Ramadan, terdapat malam seribu bulan ataulailatul qadar, menurut madzhab Syafi’i.


Syaikh Mulla Ali al-Qari terkait hadits HR Muslim menyatakan, pendapat yang paling jelas (unggul), bahwa Rasulullah SAW bersungguh-sungguh dalam menambahkan aktivitas ibadah dan kepatuhan kepada Allah SWT, tidak seperti hari-hari lainnya. Ini karena beliau mengharapkan datangnya lailatul qadar, meraup maksimal keberkahan waktu-waktu tersebut, atau mengakhiri Ramadan dengan baik.” (Mulla Ali al-Qari, Mirqat al-Mafatih)

Lailatul qadar merupakan malam paling utama dari sekian waktu yang lain selama satu tahun, istimewa hanya untuk Umat Muhammad SAW (min khusushiyyai hadzihi al-Umat). Banyak ragam pendapat ulama’ kapan persisnya lailatul qadar tiba.

Tanda-tanda lailatul qadar sebagaimana petunjuk hadits Nabi, baru diketahui saat siang harinya, yaitu matahari terbit tidak tampak banyak memancarkan sinar.
Di akhirkan tanda-tanda lailatul qadar menunjukan agar setiap saat di malam hari Ramadan hendaknya bersungguh-sungguh, dengan tidak menurunkan tensi ibadah. (Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal)

Setiap malam di sepanjang bulan Ramadan, terlebih 10 hari terakhir, hendaknya Umat Islam berhusnu zhan sebagai lailatul qadar.
Menurut sebagian pendapat yang dikutip al-Qurthubi, Allah menyamarkan lailatul qadar di sepanjang bulan Ramadan, agar umat Muhammad giat beribadah di setiap malam bulan Ramadan, dengan mengharapkanlailatul qadar.
Sebagaimana Allah menyamarkan “Shalat al-Wustha” di antara shalat 5 waktu, Asma’ Mu’azham di antara sekian Asma-asma Nya, dan waktu paling ampuh dikabulkannya do’a di antara satu kali 24 jam pada hari jum’at. (Al-Qurthubi, Tafsir al Qurthubi).

Semoga di penghujung bulan Ramadan ini kita diberi pertolongan untuk semakin  giat beribadah, bersedekah, mengaji, belajar agama dan berbagai kebaikan lainnya, dengan harapan qadar kali ini terjadi di saat-saat akhir Ramadan.
Bilapun belum ditakdirkan menemui, paling tidak kita sudah mengikuti anjuran Nabi untuk meningkatkan tensi beribadah di 10 terakhir Ramadan.

Wallahu a’lam
Icon link outSumber Artikel
thumbnail

On June 17, 2017 with No comments

9803f56bcb906334



Kisah Nabi Muhammad pertama kali mendapatkan malam Lailatul Qadar
Malam lailatul qadar adalah malam datangnya keberkahan dan kemuliaan (QS Al-Qadr: 1). Malam yang lebih baik dari 1000 bulan (QS Al-Qadr: 3) ini memberikan jaminan kebaikan secara berkesinambungan di mana malaikat turun ke bumi melimpahkan segala kemuliaan dari Allah SWT bagi hamba yang dikehendaki-Nya.
Kemuliaan berkesinambungan tersebut dinyatakan dalam salah satu ayat Alquran berbunyi, Tanazzalul malaikat war ruh (QS Al-Qadr: 4). Kata Tanazzalul adalah bentuk yang mengandung arti kesinambungan, atau terjadinya sesuatu pada masa kini dan masa datang. (M. Quraish Shihab, 1999). Seperti dikutip nu online.
Malam yang hadir pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan menurut beberapa riwayat jatuh pada tanggal-tanggal ganjil ini menuntut kesiapan dari manusianya itu sendiri untuk mendapatkan malam lailatul qadar.
Artinya, apabila jiwa telah siap, kesadaran telah tumbuh dan bersemi, dan lailatul qadar datang menemui seseorang, ketika itu malam kehadirannya menjadi saat qadar, dalam arti saat menentukan bagi perjalanan sejarah hidupnya di masa-masa mendatang.
Saat itu bagi seorang hamba adalah saat titik tolak guna meraih kemuliaan dan kejayaan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Sejak saat itu pula malaikat akan turun guna menyertai dan membimbingnya menuju kebaikan sampai terbit fajar kehidupannya yang baru kelak di hari kemudian.
Saat-saat menentukan dan mengubah seluruh kehidupan Nabi Muhammad dan umatnya ialah ketika beliau menyendiri di Gua Hira. Saat itu merupakan momen pertama kali Nabi SAW menemukan malam lailatul qadar. Ketika jiwa beliau telah mencapai kesuciannya, turunlah Al-Ruh (Jibril) membawa ajaran dan membimbing Nabi sehingga terjadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat manusia.
Sekilas dari kisah Nabi di atas, lailatul qadar tidak mungkin akan diraih kecuali oleh orang-orang tertentu saja. Malam lailatul qadar diraih oleh manusia ketika dia telah siap dengan segala kebaikan dan kemuliaan hatinya. Jadi, hadirnya malam yang akan mengubah perjalanan hidup seorang tersebut menuntut peran aktif manusia dalam beramal, beribadah, melakukan kebaikan untuk semua manusia, dan menyucikan jiwanya.
Tamsil dari datangnya malam yang mulia tersebut dapat dijelaskan yaitu ketika ada tamu agung yang berkunjung ke satu tempat tidak akan menemui setiap orang di lokasi itu, walaupun setiap orang di tempat itu mendambakannya. Bukankah ada orang yang sangat rindu atas kedatangan kekasih, namun ternyata sang kekasih tak sudi mampir menemuinya?
Demikian juga dengan lailatul qadar. Itu sebabnya bulan Ramadhan menjadi bulan kehadirannya, karena bulan ini adalah bulan penyucian jiwa. Sebab itu, diduga oleh Rasulullah lailatul qadar datang pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.
Karena ketika itu, diharapkan jiwa manusia yang berpuasa selama dua puluh hari sebelumnya telah mencapai satu tingkat kesadaran dan kesucian yang memungkinakan malam mulia itu berkenan mampir menemuinya. Itu pula sebabnya Nabi SAW menganjurkan sekaligus mempraktikkan i’tikaf (berdiam diri dan merenung di masjid) pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan.
thumbnail

On June 07, 2017 with No comments

Pengumuman untuk para istri mohon baca ini klo mau masuk
SURGA....!! Dalam kehidupan masyarakat kita yang berbudaya timur, adalah sesuatu yang tabu bagi seorang wanita membicarakan dan meminta hubungan suami istri. Bagaimana Islam menjawab permasalahan tersebut?

Istri “Minta” Duluan?? Tiket masuk SURGA, Berikut Penjelasannya


Al-Khara’ithy mengatakan, “Ammarmah bin Watsi-mah memberitahu kami, bapakku memberitahuku, dia berkata, ‘Abdullah bin Rabi’ah adalah orang yang terkenal di kalangan orang-orang Quraisy sebagai orang yang baik dan selalu menjaga kehormatan dirinya. Penisnya tidak bisa ereksi. Sementara orang-orang Quraisy tidak pernah ada yang memberi kesaksian tentang kebaikan atau keburukannya dalam masalah ini.

Dia pernah menikahi seorang wanita. Tapi hanya beberapa waktu berselang, istrinya lari darinya dan kembali ke keluarganya lagi. Begitu seterusnya. Lalu Zainab binti Umar bin Salamah bertanya, ‘Mengapa para wanita itu lari dari anak pamannya?’

“Ada yang menjawab, ‘Karena wanita-wanita yang pernah menjadi istrinya tak mampu membuatnya mampu melaksanakan tugas sebagai suami.’

‘Tak ada yang menghalangiku untuk membuatnya bangkit,’ kata Zainab. ‘Demi Allah, saya adalah wanita berperawakan besar dan bergairah.’

“Maka akhirnya Zainab menikah dengannya,” kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, “selalu sabar meladeninya dan akhirnya mereka dikaruniai enam anak.”

Semangat suami bisa surut karena istri yang bersikap dingin dan menahan tangannya dari cengkeraman yang mesra kepada
suami. Sikap dingin adakalanya karena rasa malu yang menguasai, sementara ia sebenarnya berkeinginan untuk memperoleh kehangatan cinta dari suaminya.

Tapi seperti minuman hangat

yang didekatkan pada segelas es, gairah dan kemesraan suami bisa surut oleh dinginnya sikap istri dalam menanggapi usapan sayang dan kecupan cinta suaminya.

Sebaliknya, seorang suami yang sulit terbangkitkan hasratnya dapat menjadi laki-laki yang penuh kehangatan karena istri yang tahu bagaimana menumbuhkan ketertarikan suami kepada dirinya saat melakukan hubungan intim. Rasa malu tidak menghalanginya untuk memberikan kebahagiaan pada suaminya, dan merasakan keindahan berdekatan dengan suami. Karena keindahan dalam berhubungan intim merupakan kenikmatan yang dicintai dan diridhai Allah.

Insya-Allah, seorang istri yang mau menggairahkan suaminya akan memperoleh ridha dan barakah-Nya. Mudah-mudahan Allah memberikan kebahagiaan kepada Anda; kebahagiaan ketika melakukan hubungan intim bersama suami, kebahagiaan ketika menjalani kehidupan rumah tangga sehari-hari, kebahagiaan ketika Allah menitipkan benih suami di rahim Anda, kebahagiaan ketika bayi Anda mengisap ASI yang menjadi bagian dari diri Anda sendiri, dan terutama kebahagiaan ketika bertemu dengan Allah. Allahumma amin.

Benarlah nasihat Sayyidina Muhammad Al-Baqir kepada kaum wanita. Beliau mengatakan, “Wanita yang terbaik di antara kamu ialah yang membuang perisai malu ketika ia membuka baju untuk suaminya, dan memasang perisai malu ketika ia berpakaian lagi.”

Seorang suami akan merasa semakin sayang ketika istri mampu membangkitkan semangatnya ketika sama-sama menanggalkan pakaian. Dan ia merasakan cinta semakin mendalam disertai kebahagiaan dan keinginan untuk memberikan ketenteraman ketika ada rona merah di wajah istri setelah ia menutupi tubuhnya dengan pakaian kembali. Inilah sebagian di antara rahasia-rahasia.

Jadi jika Anda, seorang istri, belum pernah mengajak suami? Hmm, cobalah. Temukan sesuatu yang beda di sana…

Sumber : bagikan.xyz

thumbnail

On June 07, 2017 with No comments



MasyaAllah, Begitu indahnya Islam mengajarkan segala kebaikan, untuk umatnya. Bahkan dalam urusan rumah tangga begitu detailnya diterangkan bagaimana pahala bila suami mengajak jalan-jalan istri dengan perasaan Ikhlas dan bahagia.
Mungkin ada yang baru tahu, ternyata pahala menemani istri jalan-jalan bisa lebih baik dari pahala iktikaf di Masjid Nabawi selama sebulan penuh.
Apa yang anda dapatkan jika dengan ikhlas menemani seorang sahabat atau orang terdekat anda membeli barang barang kebutuhan sehari hari? Pasti banyak yang berfikir bahwa apa yang telah kita lakukan hanya berbalas pahala dan ucapan terima kasih saja.
Tapi jangan salah, keikhlasan kita tersebut ternyata diganjar pahala besar bahkan lebih besar dari yang kita pikirkan.
Rasullulah SAW bersabda;
“Sungguh aku berjalan bersama seorang saudara (muslim) di dalam sebuah keperluan lebih aku cintai daripada aku beriktikaf di dalam masjid ku (masjid Nabawi) ini selama sebulan.”
(HR. Ath-Thabarani)
Syaikh Muhammad bin shalih Al-Ustaimin rahimahullah berkata;
“Menunaikan kebutuhan kaum muslimin lebih penting dari pada iktikaf, karena manfaatnya lebih menyebar, menfaat ini lebih baik daripada manfaat yang terbatas (untuk diri sendiri). Kecuali manfaat terbatas tersebut merupakan perkara yang penting dan wajib dalam Islam (misalnya shalat wajib).”
Bayangkan, ganjaran melebihi pahala beriktikaf di Masjid Nabawi sebulan penuh. Betapa mulianya kita jika ikhlas walau hanya sekedar menemani orang lain berjalan-jalan.
Maka apalagi ikhlas itu dilakukan kepada istri anda sebagai orang yang paling berhak anda bahagiakan di dunia ini.
Rasullulah SAW bersabda;
“Orang yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya.” (HR At-Thirmidzi)
Maka dahulukanlah istrimu dari pada teman-temanmu. Perhatikan keinginan dan temani istri dan anak-anakmu karena sebagaimana mereka adalah paling berhak mendapatkan kebaikan dari dirimu (suami).
Sekedar pergi menemani istri dan anak-anak berbelanja, jalan-jalan dengan rasa bahagia dan ikhlas dilakukan, ganjarannya pahala yang menanti bisa melebihi dari iktikaf di Masjid Nabawi sebulan penuh.
Wallahu a’lam..
Semoga bermanfaat dan bisa menjadi perhatian kita semua. Silahkan dibagikan agar makin banyak orang yang tahu. Indahnya saling berbagi ilmu yang bermanfaat, karena kebaikannya akan terus berlipat dan pahalanya akan terus mengalir sampai kita meninggal kelak. (red)
Sumber : Tribunsalam.blogspot.com